HomeAnggota DewanKarnain Asyhar, S.P, M.Si

LKPJ Wali Kota Bogor 2025: Pangkal Tolak Pembangunan Kota yang Berdampak Nyata Bagi Rakyat

Karnain Asyhar pada saat Rapat LKPJ 2026

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Bogor Tahun 2025 merupakan dokumen strategis yang tidak sekadar memotret capaian kinerja pemerintah daerah, tetapi juga menjadi titik awal—pangkal tolak—untuk memastikan arah pembangunan Kota Bogor ke depan benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat. Dalam konteks pemerintahan daerah, LKPJ bukanlah laporan formalitas tahunan, melainkan instrumen evaluasi substantif yang harus mampu menjawab satu pertanyaan utama: sejauh mana kebijakan dan program pemerintah telah dirasakan manfaatnya oleh rakyat?

Secara umum, LKPJ Tahun 2025 yang disampaikan oleh Wali Kota Dedie Rachim menunjukkan sejumlah capaian makro yang patut diapresiasi. Pertumbuhan ekonomi Kota Bogor mencapai 5,45 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga naik menjadi 79,75, sementara angka kemiskinan turun menjadi 5,89 persen dan tingkat pengangguran menurun menjadi 7,95 persen. Di sisi fiskal, pendapatan daerah meningkat menjadi Rp3,23 triliun dengan realisasi belanja mencapai Rp3,22 triliun atau lebih dari 95 persen dari target.

Capaian tersebut tentu menjadi indikator bahwa pembangunan Kota Bogor berada pada jalur yang relatif positif. Namun demikian, sebagai representasi rakyat di DPRD, kami memandang bahwa capaian angka-angka makro tersebut harus diturunkan lebih jauh ke dalam realitas kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebab, pembangunan yang berhasil bukan hanya yang terlihat dalam statistik, tetapi yang benar-benar dirasakan dalam bentuk peningkatan kualitas hidup warga.

Pertanyaan kritisnya adalah: apakah pertumbuhan ekonomi tersebut telah menciptakan lapangan kerja yang berkualitas? Apakah penurunan angka kemiskinan diiringi dengan peningkatan daya beli masyarakat? Dan apakah belanja daerah yang besar telah tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan publik, seperti infrastruktur dasar, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penataan lingkungan?

Di sinilah pentingnya menjadikan LKPJ sebagai pangkal tolak pembangunan yang lebih berdampak. DPRD, khususnya Fraksi PKS, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap program pemerintah tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga efektif secara substantif. Evaluasi terhadap LKPJ harus berorientasi pada outcome dan impact, bukan sekadar output.

Ke depan, terdapat beberapa catatan strategis yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, penguatan kualitas belanja daerah. Anggaran harus difokuskan pada program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti pengentasan kemiskinan berbasis keluarga, peningkatan kualitas UMKM, serta penguatan ekonomi lokal. Efisiensi anggaran juga harus menjadi prinsip utama, terutama di tengah tantangan kebijakan nasional yang mendorong penghematan fiskal.

Kedua, peningkatan kualitas pelayanan publik. Masyarakat Kota Bogor membutuhkan layanan yang cepat, mudah, dan transparan. Transformasi digital dalam birokrasi harus terus didorong, namun tetap diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur. Pelayanan publik yang prima akan menjadi wajah nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

Ketiga, penguatan pembangunan berbasis kewilayahan. Ketimpangan antar wilayah di Kota Bogor masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Program pembangunan harus lebih sensitif terhadap kebutuhan spesifik di setiap kecamatan dan kelurahan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, tetapi merata dan berkeadilan.

Keempat, peningkatan partisipasi masyarakat. Pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang melibatkan rakyat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Forum-forum partisipatif seperti musrenbang harus diperkuat agar aspirasi masyarakat benar-benar terakomodasi dalam kebijakan pemerintah daerah.

Kelima, penguatan aspek keberlanjutan lingkungan. Kota Bogor sebagai kota hujan memiliki tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan, mulai dari banjir, sampah, hingga ruang terbuka hijau. Pembangunan ke depan harus mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan agar tidak mengorbankan generasi mendatang.

Sebagai lembaga legislatif, DPRD akan memberikan rekomendasi konstruktif terhadap LKPJ ini sebagai bentuk check and balance terhadap kinerja pemerintah daerah. Rekomendasi tersebut bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada rakyat.

Pada akhirnya, LKPJ Wali Kota Bogor Tahun 2025 harus dimaknai sebagai momentum refleksi dan perbaikan. Capaian yang ada perlu diapresiasi, namun kekurangan yang masih terjadi harus menjadi bahan introspeksi bersama. Dengan semangat kolaborasi antara eksekutif, legislatif, dan masyarakat, kita optimis Kota Bogor dapat terus bergerak menuju kota yang maju, inklusif, dan berkeadilan.

Pembangunan yang berdampak nyata bukanlah sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan dalam setiap kebijakan dan program. Dan LKPJ inilah yang menjadi pijakan awal untuk memastikan bahwa arah pembangunan Kota Bogor benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.

Views: 0

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: