Bogor, 26 Juli 2026 – Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bogor menggelar Seminar Ketahanan Keluarga bertema “Strategi Pendampingan Masyarakat dalam Menghadapi Maraknya LGBT dan Penguatan Ketahanan Keluarga” di Aula DPTD PKS Kota Bogor, Ahad (26/7). Seminar ini menjadi forum edukasi bagi para pengurus, tokoh masyarakat, akademisi, dan pegiat keluarga untuk memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.
Ketua MPD PKS Kota Bogor, Angga Alan Surawijaya, S.Pi., M.Si., mengatakan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sehat, berkarakter, dan memiliki ketahanan moral.
“Maraknya LGBT menuntut keluarga untuk memiliki kemampuan daya tangkal berdasarkan pengetahuan yang tepat dan pemahaman agama yang baik. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat.”
Ketua DPD PKS Kota Bogor, Dr. Adityawarman Adil, S.Si., M.Si., mengatakan bahwa momen seminar ini penting untuk memberikan pembekalan pengetahuan dari narasumber yang relevan.
“Kota Bogor telah memiliki Perda No.1 Tahun 2019 dan diperbaharui dengan Perda No.10 Tahun 2021 yang diinisiasi oleh Fraksi PKS DPRD Kota Bogor, diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi Perwali agar semakin efektif tindakan yang diambil Pemerintah Daerah Kota Bogor dalam penanggulangan perilaku penyimpangan seksual LGBTQ+. Dari sisi PKS, Presiden PKS telah memberikan amanat mengenai Program Rumah Kemanusiaan dapat menjadi sarana peningkatan awareness mengenai LGBTQ+ dan dampak negatifnya kepada masyarakat.”
Seminar yang dimoderatori oleh Euis Sufi Jatiningsih, menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya. Dalam pengantarnya, Euis Sufi Jatiningsih menyebutkan bahwa perilaku menyimpang LGBTQ+ menjadi masalah bersama yang perlu dipelajari dan diselesaikan oleh seluruh elemen masyarakat.
Narasumber pertama, Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman, M.Pd.I., memaparkan materi “Fenomena LGBT dan Langkah Penanganan LGBT di Era Digital.” Dalam paparannya, Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman, M.Pd.I. menjelaskan bahwa fenomena LGBTQ+ perlu dipahami secara komprehensif, tidak hanya dari sisi perilaku, namun juga mengetahui sejarah pergerakannya, aktifitas politiknya tetapi juga dengan melihat berbagai faktor yang memengaruhi terbentuknya orientasi maupun perilaku seksual, seperti pola pengasuhan, lingkungan pergaulan, paparan media digital, pornografi, hingga aspek psikologis dan spiritual. Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter dan ketahanan moral anak.
Prof. Imas menegaskan bahwa pendekatan pendampingan sebaiknya dilakukan dengan komunikasi yang efektif dan membangun kepercayaan.
“Pendampingan harus dimulai dengan kemampuan mendengar secara aktif, membangun dialog tanpa menghakimi, menjaga kepercayaan, kemudian mengarahkan kepada bimbingan dan konseling yang tepat sesuai kebutuhan. Penguatan keluarga menjadi langkah preventif yang sangat penting agar anak memiliki ketahanan menghadapi berbagai pengaruh negatif di era digital.”
Ia juga menambahkan bahwa upaya penanganan tidak cukup dilakukan setelah masalah muncul, tetapi harus dimulai sejak dini melalui pola asuh yang baik, pendidikan seks yang sesuai dengan nilai-nilai agama, pembinaan spiritual, serta kolaborasi antara keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat.
Sementara itu, narasumber kedua, Ustadz Yasir A. Liputo, menyampaikan materi “Menjaga Fitrah dan Membangun Ketahanan Keluarga dalam Perspektif Islam.” Ia menjelaskan pentingnya keluarga sebagai benteng pertama dalam menjaga fitrah manusia melalui pendidikan agama, keteladanan orang tua, dan pembiasaan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai pola komunikasi orang tua dan anak, tantangan pengasuhan di era media sosial, serta strategi membangun lingkungan keluarga yang mampu menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.
Melalui seminar ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai dinamika fenomena LGBTQ+, faktor-faktor yang memengaruhinya, strategi komunikasi dan pendampingan yang konstruktif, serta pentingnya penguatan ketahanan keluarga melalui pendekatan edukatif, psikologis, sosial, dan spiritual. Seminar juga mendorong lahirnya rekomendasi program yang melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga di tengah tantangan era digital.
Seminar ini diikuti oleh unsur MPD PKS Kota Bogor, Dewan Etik Daerah, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga, Dewan Pakar, Dewan Penasehat, serta berbagai tokoh masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu ketahanan keluarga.
Melalui kegiatan ini, PKS Kota Bogor berharap lahir kesamaan persepsi mengenai pentingnya penguatan institusi keluarga, tersusunnya strategi pendampingan masyarakat yang lebih aplikatif, serta rekomendasi program pembinaan keluarga yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan bersama pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen bangsa.
Menurut panitia, seminar ini merupakan bagian dari komitmen PKS Kota Bogor untuk terus menghadirkan ruang diskusi ilmiah dan edukatif yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial melalui pendekatan keluarga sebagai pilar utama pembangunan masyarakat.
Views: 79



COMMENTS