BOGOR – Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan masyarakat menyaring kabar politik menjadi bagian penting untuk menjaga demokrasi tetap sehat. Masalahnya, tidak semua informasi yang beredar benar.
Hal itu menjadi perhatian Anggota DPRD Kota Bogor Dedi Mulyono, Dedi menggandeng BAKESBANGPOL Kota Bogor dalam agenda pengembangan wawasan politik yang dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 untuk mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak menerima dan menyebarkan informasi politik di media sosial.
Dedi: Demokrasi Sehat Lahir dari Warga yang Melek Politik
Dedi menilai pendidikan politik tidak cukup hanya berbicara mengenai pemilu atau partai politik. Di era digital, wawasan politik juga harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat memahami informasi yang mereka temui setiap hari di media sosial.
“Demokrasi yang sehat itu lahir dari warga yang melek politik, bukan yang gampang terprovokasi. Bersama Bakesbangpol, kita ingin memastikan media sosial jadi ruang diskusi gagasan.”
Menurut Dedi, generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Mereka merupakan salah satu kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial sekaligus menjadi bagian dari masyarakat yang akan menentukan arah demokrasi ke depan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi penting sebelum seseorang memberikan komentar, membagikan unggahan, atau ikut menyebarkan sebuah narasi politik.

Dedi Dorong Warga Biasakan Verifikasi Informasi
Dalam agenda pengembangan wawasan politik tersebut, masyarakat didorong untuk tidak langsung percaya terhadap informasi politik yang muncul di media sosial. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memverifikasi kebenaran informasi sebelum membagikannya ke ruang publik digital.
Warga perlu melihat sumber informasi, membandingkan dengan sumber lain, memeriksa konteks dan tanggal informasi, serta tidak mudah percaya hanya karena sebuah unggahan sudah mendapatkan banyak komentar atau dibagikan ribuan kali. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk membentengi ruang publik dari hoaks, narasi adu domba, dan provokasi yang dapat merusak kualitas demokrasi.
Kolaborasi Jadi Kunci
Melihat pesatnya arus informasi di berbagai platform digital, kolaborasi antara tokoh masyarakat, anggota legislatif, dan lembaga daerah seperti Bakesbangpol Kota Bogor menjadi langkah strategis.
Pengembangan wawasan politik diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan informasi politik di media sosial.
Bagi Dedi, demokrasi berkualitas tidak hanya dibangun di ruang sidang atau tempat pemungutan suara. Demokrasi juga dibangun dari cara warga berdiskusi, berbeda pendapat, dan menyikapi informasi yang beredar di ruang digital.
Media Sosial Harus Jadi Ruang Adu Gagasan, Bukan Adu Domba
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, mengkritik kebijakan, dan menyampaikan aspirasi masyarakat secara sehat. Bukan menjadi tempat menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ketika warga mampu berpikir kritis dan tidak mudah terprovokasi, ruang digital akan menjadi bagian dari solusi untuk memperkuat demokrasi.
Dedi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong edukasi politik yang dekat dengan kebutuhan warga, termasuk menghadapi tantangan baru di era media sosial. Menjaga demokrasi adalah tanggung jawab bersama, termasuk setiap warga yang memilih untuk memeriksa kebenaran sebelum menekan tombol “bagikan”.
Jika warga menemukan informasi politik yang meresahkan, provokatif, atau diduga hoaks, jangan langsung ikut menyebarkannya. Cek kebenarannya, cari sumber yang terpercaya, dan sampaikan persoalan kepada pihak yang tepat. Demokrasi yang kuat dimulai dari warga yang kritis, bijak, dan tidak mudah diadu domba.
Views: 2

COMMENTS