Atasi Potensi Longsor, Dedi Mulyono Kawal Pembangunan Turap di RW 04 Cipaku Lewat Aspirasi Pokir

HomeAnggota DewanDedi Mulyono, S.P, M.Si

Atasi Potensi Longsor, Dedi Mulyono Kawal Pembangunan Turap di RW 04 Cipaku Lewat Aspirasi Pokir

BOGOR — Kekhawatiran warga RW 04, Kelurahan Cipaku, Bogor Selatan, terhadap potensi longsor akhirnya mendapat perhatian. Kondisi tanah yang rawan dan lingkungan yang berada di sekitar area berkontur membuat warga membutuhkan penguatan tebing agar keselamatan dan akses lingkungan tetap terjaga.

Bagi warga, pembangunan turap bukan sekadar proyek infrastruktur. Turap menjadi kebutuhan penting untuk mencegah tanah longsor yang bisa mengancam rumah, jalan lingkungan, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat.

Warga Khawatir Tebing Longsor

Kondisi tebing di lingkungan RW 04 Cipaku menjadi perhatian warga, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Tanah yang tidak memiliki penahan yang memadai berpotensi mengalami pergerakan dan longsor.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Jika tidak segera ditangani, longsor dapat menimbulkan kerusakan lebih besar dan membahayakan warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi. Warga pun berharap ada langkah nyata dari pemerintah agar persoalan tersebut tidak menunggu sampai terjadi bencana.

Dedi Mulyono Turun Kawal Aspirasi Warga

Persoalan tersebut kemudian menjadi bagian dari aspirasi yang dikawal Dedi Mulyono sebagai anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PKS dari dapil Bogor Selatan. Dedi mendorong agar kebutuhan pembangunan turap di RW 04 Cipaku dapat direalisasikan melalui pokok-pokok pikiran (POKIR) DPRD.

Bagi Dedi, aspirasi warga tidak cukup hanya didengar. Ketika ada persoalan yang menyangkut keselamatan masyarakat, perlu ada pengawalan agar aspirasi tersebut bisa diterjemahkan menjadi solusi konkret.

“Jangan sampai kita menunggu longsor dulu baru bergerak. Kalau memang ada titik yang rawan dan warga sudah menyampaikan kekhawatirannya, harus segera dicari solusinya.”

Turap Jadi Upaya Cegah Risiko Lebih Besar

Pembangunan turap diharapkan dapat memperkuat struktur tanah sekaligus mengurangi risiko longsor di lingkungan warga. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat lingkungan.

Dedi menilai, pembangunan infrastruktur harus melihat kondisi riil warga. Persoalan yang terlihat kecil di tingkat RW bisa berubah menjadi masalah besar jika tidak segera ditangani.

Menurutnya, pembangunan turap harus dipandang sebagai bagian dari perlindungan warga dari potensi bencana. Setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat, kata Dedi, harus dikawal sesuai mekanisme yang ada agar manfaat pembangunan bisa benar-benar dirasakan warga.

“Pembangunan itu bukan hanya soal beton dan bangunan. Yang paling penting adalah bagaimana warga merasa aman dan terlindungi,” ujarnya.

Bukan Hanya Cegah Longsor, Lahan Disiapkan untuk Makam Warga

Di sisi lain, lahan yang berada di area tersebut juga direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai lahan makam bagi warga. Karena itu, penguatan tebing melalui pembangunan turap dinilai semakin penting. Selain untuk mencegah potensi longsor dan menjaga keselamatan lingkungan sekitar, pembangunan turap diharapkan dapat mengamankan lahan agar tetap bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Dedi Mulyono pun mendorong agar penanganan kawasan tersebut tidak hanya melihat persoalan infrastrukturnya, tapi juga mempertimbangkan kebutuhan sosial warga kedepan. Dengan turap yang dibangun, lahan diharapkan lebih aman dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk sebagai tempat pemakaman warga.

“Kita ingin lahan ini bisa benar-benar memberikan manfaat untuk warga. Karena selain perlu mengantisipasi longsor, lahan ini juga akan digunakan untuk kebutuhan makam masyarakat,” ujarnya.

Views: 21

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: